Part 1
(~isd~)
Pagi yang cerah
Sang mentari mulai menampakkan dirinya
Burung-burung berkicau memcahkan kesunyian
pagi itu
Bunga-bunga yang indah mulai bermekaran
Aku duduk meratap
Sendiri diusia senjaku
Menanti kedatangan putra-putriku
setiap waktu, setiap hari, bulan bahkan tahun
aku menanti tanpa ada satupun yang berkunjung
namun aku tak pernah berhenti berharap
hingga hari itu pun datang
ada yg mendekat dari kejauhan
tak sanggup kumembendung airmata
bukan air mata sedih namun airmata penuh
kebahagiaan
baru aku sadari
bahwa putra-putriku telah dewasa
mereka bukan lagi putri kecilku yang lucu
bukan lagi putraku yang menangis memelukku
“nak ibu sangat rindu”
Part 2
(~isd~)
Putra-putriku yang kusayang
Kalian semua kebanggaanku
Ibu yakin ayah kalian juga merasakan hal yang
sama
Taukah anak-anakku
Masih teringat jelas dibenak ibu
Saat ibu mengandung kalian berempat
disaat ibumu melahirkan kalian, ayahmu selalu
menemani Ibu
Saat kalian datang kedunia,
semua rasa lelah semua rasa sakit hilang saat itu juga
dengan penuh syukur
ayahmengendong tubuh mungil kalian
dengan penuh kasih dan kelembutan
ingatkah nak??
saat kalian mulai belajar berbicara untuk
pertama kali
saat kalian mulai merangkak
saat kalian mulai berjalan
betapa bahagianya ibu saat itu
menyasikan kalian melihat keindahan dunia
part 3
(~isd~)
kami...
ya kami
ayah dan ibu
maafkan kami nak bila kami bukan orang tua
yang kalian harapkan
maaf bila ayah dan ibu bukan orang kaya yang
bisa membelikan banyak hal
karena kami hanyalah seorang buruh
kami hanya mampu menyekolahkan kalian
kami hanya mampu membelikan makanan seadanya
kami tak mampu membelikan sepeda
kami tak mampu membelikan barang-barang mewah
hanya doa dan harapan yang mampu ayah dan ibu
berikan
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat
Satu demi satu dari kalian sudah mampu
berjalan
Dengan kaki kalian sendiri
Kalian tak lagi dalam gendongan ibu
Kalian mulai mengerti kehidupan
Kalian mulai mengerti apa itu malu
Pagi itu untuk pertama kalinya kalian sekolah
Ibu mengantar kalian
Dengan senyum dan penuh harapan
Saat kalian pulang bukan senyum yang ibu lihat
Justru air mata yang mengalir deras membasahi
pipi mungil kalian
Ibu rela siapapun menghina ibu
Namun ibu tak akan pernah rela bila ada yang
menyakiti kalian
“menangislah nak, keluarkan semua air mata kalian”
“tapi berjanjilah pada ibu kalian akan menjadi
orang yang kuat”
“jauh lebih kuat untuk menghadapi kejamnya
hidup”
Part 4
(~isd~)
Nasib tinggalah nasib
Dengan tekad yang kuat
Dengan sesak dalam hati
Ayah pergi
Pergi untuk mencari peruntunan
Demi harapan masa depan yang lebih baik
Dengan peluh yang tak henti megalir
Dengan tenaga yang selalu diperas tanpa henti
Namun kini
Ayah yang selalu ada untuk melindungi
Ia pergi
Benar-benar pergi
Dan tak akan pernah bisa kembali
Kini, hanya kenangan yang dapat kita ingat
Hanya foto yang dapat kita lihat
Nak...
Jalan memang tak selalu lurus
hidup tidaklah selalu
indah
bahkan langitpun
pernah gelap
Satu dari semangat hidupku telah hilang
Yang tersisa hanya duka kepedihan
Dan kenangan yang selalu terbayang
Tidak...tidak
bukan waktunya untuk mengeluh
kini saatnya berjuang demi harapan masa depan
lihat, putra-putrimu yang beranjak remaja
mereka adalah harapan
mereka adalah tujuan
mereka adalah mimpimu
tetaplah tegar demi mereka
yang pulang dengan penuh kebanggaan
yang pulang membawa medali
sungguh saat itu rasa bangga dan takut yang
ada dalam hati
rasa takut akan kehilangan kalian
kalian akan pergi meninggalkan ibu
pergi mengejar cita-cita
mengejar kesuksesan
pergilah nak…
kejar cita-cita dan harapanmu
doa ibu akan selalu menyertai kalian
ibu akan selalu ada
ibu akan selalu menanti kalian
lekaslah kembali dengan senyuman sejati
part 5
(karya H. Riyanto)
ibu…
kurindukan sebersit bayangan wajahmu
ketulusan ikhlasmu, emas mutiara bagiku
kemulyaanmu berderap
sunyi
harap
wajahmu terpanggang sepenuh juang
memenuhi pinta sepenuh jiwa
aku dituntun sepenuh santun
tunjuki jalan keridoan Tuhan
dihantar kesamudra pintar
dengan sepenuh maklum dan sabar
diantar aku selurus jalan kemuliaan
aku telah berdusta
aku telah banyak dosa
namun ibu tetap samudra
aku berani tidak berbakti
aku mencaci,
ibu memuji sepenuh hati
tetap mendoakan dan mengampuni
“ibu aku ingin pulang”
Part 6
(~isd)
Ibu oh ibu..
Kasih dan sayangmu abadi
Cinta tulus ikhlasmu tiada terpungkiri
Letih, peluh, hingga luka
Kau abaikan begitu saja
Demi senyum bahagia yang terpancar dari wajah
tak berdosa
Ibu…
Begitu besar pengorbananmu
Begitu kuat kesabaranmu
Bahkan kata-katapun tak mampu
Untuk mengungkapkan segalatentangmu
Ibu..
ibu....ibu....
Ampunilah anakmu
Aku sadar aku tak seputih salju
Terlalu banyak kesalahan
Terlalu banyak cacian
Terlontarkan begitu mudahnya
Hingga kau terluka
Jatuh...
Meneteslah air dari mata yang sendu
Ibu...
Maafkan anakmu
Aku ingin ibu tertawa
Aku ingin ibu bahagia
Senyum.. tersenyumah ibu
Karena aku sangat menyayangimu.
copyright
~isd~
@2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar