Ceritaku kembali menguak mengiringi
kopi yang semakin dingin. Setiap sesapannya menghanyutkanku menuju masa lalu
dengan seribu kelam memburu. Rasa bersalah kemudian rasa mengalah terbaur
menutupi kejelasan. Aku selalu dengan kalutku tentang apa-apa yang disebut
pencemburu terhadap semua kekasihku.
Kosongnya pemikiranku bukan atas
dasar kegagalan berdua. Aku selalu mencoba mendalami kejatuhan indah ketika
selalu dapat bersua. Entah dengan kecintaanku atau dengan eksotiknya alamku. Kemudian
setelah itu sepi menyayati terhadap mereka para pemburu nafsu. Saat aku kembali
mengubur kecurigaanku agar semesta selalu mencintaiku.
Hingga hitam dalam gelasku telah
hilang, kenangan pekat mencekam masih hangat terekam. Aku tau, kau atau mungkin
aku memang saling membisu ketika menjumpai sejarah baru. Entah sejarah entah
kau sebut itu batu pijakan terdahulu. Aku memang belum melihat keanehan yang
tertuju. Mengenai segala sesuatu semacam kebohongan cantik dari mulutmu. Pun
aku yang masih membungkam keluhanku mengenai sudut pandang dan duniaku.
Tuhan tertawa melalui perasaan
hinaku. Berkata tentang betapa aku mendewakan bahagiaku dengan sombongnya aku. Inginku
tuangkan lagi pait dalam gelas putih dihadapanku. Sekedar memberikan esensi
bahwa semua ini belum berlalu. Masih harus kusandingkan gurauan Tuhan diantara
kehidupanku dan atau kehidupanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar