Selasa, 27 Februari 2018

Pahitnya Membisu

Ceritaku kembali menguak mengiringi kopi yang semakin dingin. Setiap sesapannya menghanyutkanku menuju masa lalu dengan seribu kelam memburu. Rasa bersalah kemudian rasa mengalah terbaur menutupi kejelasan. Aku selalu dengan kalutku tentang apa-apa yang disebut pencemburu terhadap semua kekasihku.
Kosongnya pemikiranku bukan atas dasar kegagalan berdua. Aku selalu mencoba mendalami kejatuhan indah ketika selalu dapat bersua. Entah dengan kecintaanku atau dengan eksotiknya alamku. Kemudian setelah itu sepi menyayati terhadap mereka para pemburu nafsu. Saat aku kembali mengubur kecurigaanku agar semesta selalu mencintaiku.
Hingga hitam dalam gelasku telah hilang, kenangan pekat mencekam masih hangat terekam. Aku tau, kau atau mungkin aku memang saling membisu ketika menjumpai sejarah baru. Entah sejarah entah kau sebut itu batu pijakan terdahulu. Aku memang belum melihat keanehan yang tertuju. Mengenai segala sesuatu semacam kebohongan cantik dari mulutmu. Pun aku yang masih membungkam keluhanku mengenai sudut pandang dan duniaku.
Tuhan tertawa melalui perasaan hinaku. Berkata tentang betapa aku mendewakan bahagiaku dengan sombongnya aku. Inginku tuangkan lagi pait dalam gelas putih dihadapanku. Sekedar memberikan esensi bahwa semua ini belum berlalu. Masih harus kusandingkan gurauan Tuhan diantara kehidupanku dan atau kehidupanmu.

Tidak ada komentar: